Latest Article Get our latest posts by subscribing this site
Buku Adalah Jendela Dunia
Banyak orang mengatakan hal yang serupa seperti judul di atas untuk membujuk agar orang-orang rajin membaca. Namun, jaman sudah berubah. Jaman sekarang, remaja maupun dewasa ingin memperoleh sesuatu secara instan. Semua orang ingin asal jadi tanpa mau bersusah payah. Kelihatannya peribahasa “bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian” berangsur-angsur mulai terlupakan. Ya. Jaman sekarang remaja jarang sekali membaca buku untuk menyerap ilmu pengetahuan. Kebanyakan mereka lebih senang browsing di internet sekaligus main facebook. Akibatnya, konsenterasi remaja jadi teralih sepenuhnya pada facebook dibandingkan menyerap ilmu tersebut.
Kurangnya minat membaca remaja ini tampaknya semakin menurun karena munculnya jejaring sosial facebook, friendster, myspace, twitter, dsb. Remaja lebih memilih membuka jejaring tersebut dibandingkan membaca. Padahal, buku menjadi sarana yang paling penting untuk remaja. Dengan membaca, kita bisa berkreativitas, berimajinasi dan munculnya penulis andal asal Indonesia. Kebanyakan novel-novel bermutu dan bagus adalah guratan penulis luar negeri, bukan Indonesia. Sunguh kesempatan yang bagus untuk mengharumkan Indonesia.
Akhir kata, saya pikr lebih bagus jika sekolah atau siapa pun yang peduli melakukan sesuatu untuk meningkatkan semangat membaca di kalangan remaja. Karena dengan membaca, kita bisa menuntut ilmu dan ilmu itu bisa digunakan untuk kehidupan sukses di masa depan. Membacalah sebelum hari senja. Ingat! Penyesalan selalu datang terlambat. (Stella 7D-36)
M

Pemberdayaan Masjid Sebagai Sarana Pendidikan Islam Bagi Siswa Di Madrasah

Masjid sebagi instrumen yang dapat digunakan untuk bersujud, juga berarti dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan berdimensi sosial yang melibatkan manusia dengan menjadikannya sebagai sentral kegiatan. Hal ini berhubungan juga dengan potensi masjid itu sendiri yang harus diberdayakan dengan segenap kemampuan para pengelolanya. Dalam hal ini dibutuhkan keahlian (skill) yang tidak sekedar cukup saja, tetapi mesti dilaksanakan secara maksimal sebagai implementasi dari dakwah bi ahsan al-‘amal (melakukan perubahan dengan mengerahkan segenap kemampuan). Dengan pemahaman semacam ini, masjid dapat dimaknai sebagai instrumen atau sarana ibadah universal. Tidak hanya ibadah mahdhoh (mikro) saja, tetapi juga ibadah ghayr mahdhah (makro). Sehingga, masjid kembali lagi pada fungsinya sebagaimana zaman Nabi Muhammad saw. dahulu yakni, sebagai pusat pendidikan Islam yang berupaya mendidikkan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.
Memahami masjid secara universal berarti juga memahaminya sebagai sebuah instrumen sosial masyarakat Islam yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Islam itu sendiri. Keberadaan masjid pada umumnya merupakan salah satu perwujudan aspirasi umat Islam sebagai tempat ibadah yang menduduki fungsi sentral. Mengingat fungsinya yang strategis, maka perlu dibina sebaikbaiknya, baik segi fisik bangunan maupun segi kegiatan pemakmurannya. Melalui pemahaman ini, muncul sebuah keyakinan bahwa masjid menjadi pusat dan sumber peradaban Islam. Melalui masjid pula, kaderisasi generasi muda dapat dilakukan melalui proses pendidikan Islam yang bersifat kontinyu untuk pencapaian kemajuan. Sehingga pendidikan agama tidak cenderung mengedepankan aspek kognisi (pemikiran) saja, melainkan ada aspek afeksi (rasa) dan psikomotorok (tingkah laku).
Penelitian ini menggunakan pendekatan Deskriptif-Kualitatif. Diharapkan dengan menggunkan pendekatan tersebut penulis mendapatkan gambaran yang objektif, faktual, akurat dan sistematis, mengenai masalah-masalah yang ada di obyek penelitian. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan interview dan observasi. Kemudian hasil penelitian tersebut dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan yang terakhir adalah verifikasi atau menarik kesimpulan.
Dari hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa (1) Tujuan pemberdayaan masjid di MAN 3 Malang ini antara lain agar para siswa terpaut hatinya dengan masjid hal ini dikarenakan kalau bukan generasi muda Islam siapa lagi yang perhatian terhadap masjid, (2) sebagai upaya memberdayakan masjid Al Falah, maka diadakan beberapa kegiatan antra lain: Mengadakan lomba yang sangat erat kaitannya dengan syiar Islam, seperti lomba adzan dan lomba ceramah (da’i muda) yang fungsinya mencari kader-kader penerus Islam yang hasilnya nanti tentu saja diaplikasikan di masjid, kajian kitab bagi siswa asrama ba’da Shubuh, program hafalan al-Qur’an ba’da Ashar dan talaqqi-nya setiap hari Senin dan Rabu, pembinaan bahasa Inggris dan Arab (menjelang Isya’) yang juga dipusatkan tempatkan di masjid, pembinaan jama’ah baik guru, siswa, dan karyawan yang pada awalnya pembinaan jama’ah ini mengunakan sistem absensi, adanya rekruitmen tenaga ta’mir dari siswa atau alumni (aktivis BDI), Kultum (kuliah tujuh menit) dari siswa setiap hari Senin dan Kamis ba’da Dhuhur, upaya pemberdayaan masjid dari segi fisik yakni renovasi masjid atau pengembangan masjid dari segi fisik, mempersilahkan masyarakat umum untuk menggunakan masjid untuk kepentingan agama semisal digunakannya Masjid MAN 3 Malang ini untuk acara Akad nikah (bekerjasama dengan KUA), pengajian umum yang diadakan oleh instansi lain semisal Magistra Utama, Technos, Wearnes. Seringnya Masjid MAN 3 ini untuk sholat jenazah apabila ada masyarakat yang meninggal dunia, bekerjasama dengan CMM (corps mubaliqh muhamaddiyah) untuk mempersiapkan mubaliqh dan khotib-khotib yang berkualitas yang direkrut dari para guru ( khotib sholat Jum’at) dan para siswa (kultum), seringnya proses pembelajaran PAI yang di pusatkan di masjid misalnya pelajaran qur’an-hadits, Fiqih (terutama yang berkaitan dengan praktek ibadah), melengkapi fasilitas masjid berupa perpustakaan masjid yang dapat di nikmati tidak hanya oleh pihak internal madrasah tapi juga jama’ah dan masyarakat sekitar. (3) Adapun manfaat dari adanya pemberdayaan masjid tersebut: dengan adanya proses pemberdayaan masjid siswa dapat terlatih dan terbiasa dalam mempraktekkan ajaran Islam terutama yang berkaitan dengan ibadah terutama kebiasaan sholat berjama’ah,program kultum (kuliah tujuh menit) yang diperuntukkan bagi siswa disitu terdapat pendidikan mengenai keberanian untuk amar ma’ruf nahi mungkar, adanya interaksi antara guru dan siswa dalam aktifitas masjid. Maksudnya dalam proses pendidikan Islam guru harus mampu menjadi uswatun khasanah bagi siswanya sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad pada awal perjuangan beliau mendidik umat yang tentu saja dipusatkan di masjid dan dengan adanya pemberdayaan masjid maka siswa bisa fokus, tersentralkan, dan terkontrol segala aktivitasnya yang kaitannya dengan kegiatan di masjid.

Strategi Implementasi Standar Proses Pendidikan Pada Madrasah Aliyah Darul Hikmah dan Madrasah Aliyah Al-Kautsar Pekanbaru.


Penulis : Binti Rohmawati
Tahun : 2012
Fakultas : Pasca Sarjana
Jurusan : S2 Manajemen Pendidikan Islam
Pembimbing : 1) Dr. H. M. Samsul Hady. M.Ag..  2) Dr. H. Sugeng Listyo Prabowo. M.Pd..  
Kata Kunci : Strategi Implementasi ; Standar Proses Pendidikan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi implementasi standar proses pendidikan pada madrasah aliyah Darul Hikmah dan Madrasah Aliyah al-Kautsar Pekanbaru, dengan sub fokus mencakup: (1) standar proses, (2) strategi implementasi, (3) kerjasama komponen madrasah, yang dilakukan di Madrasah Aliyah Darul Hikmah dan Madrasah Aliyah Al-Kautsar Pekanbaru.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Penetapan informan berdasarkan pada pertimbangan bahwa informan benar-benar terkait dengan permasalahan Strategi Implementasi Standar Proses Pendidikan Pada Madrasah Aliyah Darul Hikmah dan Madrasah Aliyah Al-Kautsar Pekanbaru, yaitu: (1) Kepala sekolah, (2) Waka Kurikulum, (3) Guru bidang studi. Data yang didapat kemudian dianalisis dengan analisis data kualitatif yang terdiri dari (a) reduksi data, (c) penyajian data, dan (c) penarikan kesimpulan. Dalam penelitian ini, data
harus dapat diterima untuk mendukung kesimpulan penelitian. Oleh karena itu dipergunakan standar keabsahan data yang terdiri dari: (1) kepercayaan, (2) keteralihan, (3) keterandalan, (4) obyektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) standar proses pada Madrasah Aliyah
Darul Hikmah menunjukkan bahwa pelaksanaan standar proses bahwa pelaksanaan standar proses pendidikan telah memenuhi kriteria dan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan lembaga pendidikan, sedangkan pada Madrasah Aliyah Al-Kautsar implementasi standar proses pendidikan perlu ada perhatian dari pihak luar madrasah untuk perkembangan lembaga selanjutnya. (2) Strategi implementasi pada Madrasah Aliyah Darul Hikmah : a) Berupaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik yang  memberikan waktu dan pengarahan terhadap kebutuhan guru, b) Guru beserta
komponennya saling bekerjasama untuk membangun suasana belajar yang efektif, c) Madrasah mengarahkan peserta didik dalam menentukan jurusan sesuai dengan minat dan kemampuan siswa, d) Adanya sikap keterbukaan sesama komponen Madrasah baik di lingkungan guru maupun di lingkungan siswa, e) Menjalin kerjasama dengan Madrasah lain guna meningkatkan hubungan madrasah dan perkembangan serta kemajuan standar proses pendidikan. Madrasah Aliyah Al-Kautsar berupaya: 1) meningkatkan dan menjaga kerjasamanya di lingkungan internal, 2) mempertahankan
budaya sekolah dengan dukungan kurikulum induk, 3) Memberikan kebebasan bagi tenaga pendidik dalam mengolah siswa di lingkungan madrasah.

Silahkan Di Like

Download

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. YAYASAN AL-WASILAH LEMO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger